TW // Toxic relationship, Cheating, Emotional abuse, Verbal abuse, Sexual content, Manipulation, Unhealthy relationship dynamics.
Suara TV menggema ke seluruh ruangan, berisik entah memutar acara apa, tapi tak satupun dari mereka benar-benar memperhatikan. Isaac bersandar di sofa, satu tangan menyanggah kepalanya, mata tak lepas dari layar ponsel. Ia menggulir, mengetik, berhenti, mengetik, menggulir lagi, seperti sedang berusaha sibuk meski pikirannya tidak benar benar ada di sana.
Thalita terduduk di sampingnya, bersandar di lengan Isaac. salah satu tangannya bergelayut manja di lengan pria itu, seolah keintiman bisa dipaksakan hanya dengan kontak fisik. Tapi bahkan dari sikap tubuh saja, terlihat jelas, ada jarak di sana, diantara keduanya. Jarak yang dingin, meski tubuh mereka terasa hangat karena saling menempel.
“udah ketemu yang tadi ngefoto kita?” Thalita membuka suara, pelan tapi manja. Isaac tidak langsung menoleh. “udah,” jawabnya datar, “anak kosan gue.” Thalita mengangguk seakan paham, “Oh.” mencoba bereaksi sewajarnya, tapi matanya menilai, mencari sesuatu. “Terus gimana?”
“gimana apanya?” Isaac mematikan ponselnya, pandangannya beralih ke TV dihadapannya, tetap tidak menatap Thalita. Mengingat bagaimana bartender di bar tadi lah yang memberitahu kepada keduanya bahwa seseorang telah mengambil gambar mereka secara diam diam. “kita nggak ngapa-ngapain, gue cuma rangkul lo, dan lo cuma kebetulan nempel sama gue. Nothing new.”
Kalimat itu diucapkan dengan ringan, tapi kedengarannya seperti sindiran yang disengaja. Thalita memilih mengabaikan nada itu. Ia justru makin merapatkan posisinya, pipinya menempel di bahu Isaac. “ya udah biasa aja, kan gue cuma nanya.”
Isaac bergeming, kembali menyalakan ponselnya ketika Thalita mencoba mencium pipinya sekali, kemudian sekali lagi. Dan dua-duanya ditolak. Isaac memalingkan wajah, pelan tapi tegas. Seolah gerakan itu sudah otomatis. bahkan seperti kebiasaan. Thalita menarik diri, kini posisi duduknya lebih tegak menatapnya Isaac. “not in the mood?” Isaac menghela napas kecil, “nggak.”
Keheningan kembalj menyelimuti, TV tetap menyala bising, tapi apartemen milik wanita itu terasa sunyi. “Saac…” Thalita menyipitkan matanya, meneguk ludah, kemudian mencoba lagi, kali ini suaranya mulai memanas. “Lo kenapa sih? lo sadar nggak, setiap gue mau cium lo, lo selalu nolak? selalu ngehindar. dari dulu, dari lama.”
Isaac akhirnya menatapnya, bukan marah, tapi lelah. “Lo gak capek, Thal?” Thalita mengerutkan kening, “capek apanya?” tanyanya bingung. “Ini.” Isaac menunjuk jarak di antara mereka dengan dagunya. “Hubungan kayak gini, yang nggak jelas. yang bahkan kita sendiri gak tau apa namanya.”
Thalita membenarkan letak poninya, kemudian terkekeh pelan, pahit tapi tetap defensif. “Kita emang begini nggak sih Saac? Dari awal juga udah jelas, lo sama gue karena kita… cocok aja. kita fun, nggak ribet. Dan kita juga sama sama tau ini bukan hal yang serius, lo jangan tiba-tiba ribet deh sekarang.”
Isaac tertawa hambar. “Justru itu, dari awal kita cuma saling pakai. Lo butuh pelarian dari hubungan lo sama Reza yang kacau, dan gue butuh tempat buat ngerasa… bebas. Tapi itu dulu, gue udah gak mau jadi versi diri gue yang itu lagi, Thal”
Thalita diam, bibirnya terkatup rapat. Isaac melanjutkan, pelan tapi twrasa jujur, “gue pengen punya sesuatu yang bener. Bukan hubungan yang cuma hidup kalau lo lagi butuh ditemenin atau lagi kosong.”
Nada bicara Thalita berubah, suara nya manja tapi mengandung ancaman halus. “Saac… lo kenapa jadi ribet gini dah? Kita tuh enak-enak aja selama ini. Lagian lo lupa ya? walaupun gue ada Reza, lo dari awal nggak pernah ribut soal itu—”
“Justru itu.” Isaac memotong, “kenapa gue gak pernah ribut? Karena gue juga nggak pernah nganggep ini hubungan serius yang perlu di ribut in. Lo punya cowok, Thal. Lo punya Reza. dan gue disini cuma jadi pit stop sementara lo nunggu dia balik ngurusin hidup lo. Gue bukan itu lagi, Thalita. gue capek”
Sorot mata Thalita meruncing, nafasnya mulai memburu. “Trus abis ini lo mau kemana? mau balik ke Belvan?” ada nada cemburu disana, tapi bukan cinta, lebih seperti kehilangan kendali atas “barang” nya, atas apa yang dianggap sudah ia miliki.
Isaac tak menjawab, diamnya terlalu gamblang, bukan iya, bukan juga tidak. Thalita tertawa pendek. “Gue nggak masalah, Saac. Dari awal gue udah bilang kan, lo mau ngapain aja sama Belvan, ya terserah lo. yang penting kalo gue butuh, lo ada buat gue.”
Isaac tertegun dengan ucapan wanita di hadapannya. Kalimat itu seperti menamparnya tanpa tangan. “…lo nggak denger sama sekali tadi, lo ngerti apa yang gue omongin dari tadi gak sih?” ucap Isaac lirih, ada rasa kecewa disana, bukan karena luka, tapi karena sadar betapa kosongnya semua ini.
“Gue bukan payung darurat, Thal,” ia menatap lurus, suaranya stabil namun terasa lebih dalam dari biasanya. “Gue bukan selimut cadangan kalau cowok lo lagi sibuk, gue juga bukan tempat lo pulang kalau lo lagi berantem sama Reza. Gue capek, gue pengen hubungan yang bener. Satu arah, satu orang. Saling milih, saling ada.”