Pagi itu jalanan menuju kampus cukup padat, tapi mobil Ale melaju stabil dibawah cuaca yang cerah. musik pop dari radio mengalun pelan, jadi latar obrolan seadanya. Ale di balik kemudi tampak tenang, sesekali mengetuk setir mengikuti irama. Di kursi penumpang depan, Belvan bersandar sambil memandang keluar jendela. Sementara itu, Darren di belakang tampak rileks, punggungnya menempel pada jok dengan kepala sedikit miring, sibuk dengan ponselnya.
“Eh, lo berdua kenal Abas?” suara Ale tiba-tiba memecah keheningan, mata masih terpaku ke jalan raya didepan. Belvan menoleh sekilas. “Lah, lo kok tau-tau nya Abas?” Darren langsung menyambar dari belakang dengan nada menggoda, “Ale mah kalau urusan cewek cantik, paling gercep.”
Ale terkekeh, tidak menampik. “Ya, Thalita Basri. Kembangnya FISIP, selebgram, siapa yang nggak kenal? Sama kan kayak lo, Bel. Kembang FISIP juga.” Ale melirik sekilas, menggoda yang disebelahnya. Belvan hanya menghela napas, memutar bola matanya malas. “Kenal sih. Ada beberapa matkul pilihan yang kelasnya bareng. Darren malah yang lumayan deket.” Darren spontan menegakkan badan, mengalihkan pandangan dari ponselnya. “apaan, biasa aja.”
Ale malah mencondongkan badan sedikit, melanjutkan ceritanya dengan semangat. “Gue jadi inget. kapan hari ya, gue lagi ngobrol biasa di ruang tengah sama Bang Aiden, Petra, sama Agam. Tiba-tiba ada cewek cakep tuh dateng ketok ketok pintu depan. Pas dilihat—anjir, ternyata si Abas.” Belvan dan Darren langsung menoleh bersamaan. “ngapain??”
“Nyariin Bang Isaac.” Ale tertawa, geleng-geleng. “Nggak kaget sih. Itu anak mah… biasa. Sama Bang Aiden langsung ditelponin, disuruh turun. Tapi bocahnya ngilang nggak ngangkat.” Jeda sejenak, “ eh Bel, waktu itu Bang Aiden sempet nelpon lo gak sih nyariin bang Isaac? kok katanya bang Isaac dikamar lo”
Belvan sempat terdiam beberapa saat, seolah menimbang jawabannya. “ Ga telfon, cuma chat aja. tapi iya waktu itu kak Isaac lagi di kamar gue. Ada urusan.” Hening sejenak. Ale melirik spion depan, matanya bertemu dengan Darren di belakang. Keduanya sama-sama menyimpan senyum penuh arti, lalu serentak menatap Belvan.
Ale kembali bersuara, kali ini lebih lembut. “lu beneran deket sama bang Isaac, Bel?” Belvan mengangkat bahu ringan, menahan ekspresi. “yaa deket biasa aja.” Darren terkekeh pelan dari jok belakang. “Udah gue bilang, bang Isaac tuh orangnya gimana. Tapi si B3lvan nya juga emang nggak keberatan main-main. Sama-sama licin lo berdua.”
Belvan malas menanggapi, memilih diam menatap keluar jendela. Ale hanya tergelak, seakan menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada jawabannya. Tak lama, tawa Ale mereda, kemudian berdehem sekali, “Tapi jujur, gue kadang masih agak canggung sebenernya sama tuh anak” Belvan mengernyit. “Lah, kenapa?” Darren menepuk pahanya sambil tertawa kecil, mencondongkan badan sedikit ke depan. “Woy Belvan belum tau ceritanya. Ceritain, Le.”
Ale sempat ragu, tapi akhirnya menarik napas panjang sebelum mulai membuka suara. “dulu tuh gue pernah deket sama satu cewek, anak FKG. namanya Clarissa Taufik tau gak? itulah pokoknya, tapi kebanyakan orang kenal atau manggil dia CT. Kita deket lumayan lama, pdkt an ada tuh 4 bulan, trus pacaran sekitar 5 bulan an kalo gak salah inget. Tapi lama-lama dia kaya apa ya, berubah. Turns out dia lagi deket sama orang lain, basically main belakang lah. sama anak teksin, kating” Belvan mengangkat alis. “Siapa?” Ale tersenyum hambar. “Ya siapa lagi… bang Isaac.”
Kali ini suasana dalam mobil henibg, terasa berat. Darren terkikik geli, mencoba mencairkan suasana. “Tapi bentar doang, kok. Paling cuma dua-tiga bulan abis Ale sama CT putus. Nggak serius juga kayaknya mah. Cuma ya… wajar lah kalau Ale jadi agak canggung ama bang Isaac” Ale mengangguk, ikut tersenyum tipis, matanya tetap fokus ke jalan. “Udah lama sih kejadiannya, pas kita awal awal semester 2, cuma masih ada sisa rasa rasa aneh aja jadi kadang bikin agak canggung.”
Belvan menelan ludah, tidak berkomentar, hanya diam dengan pikirannya sendiri. Radio terus mengalun, mobil kembali melaju, tapi nama Isaac masih bergema lebih nyaring di kepalanya daripada suara musik yang keluar dari radio.
written by Raa, 2025