Ruang tengah sore itu terasa hangat. Cahaya matahari masuk lewat tirai tipis, memantul di lantai marmer coklat yang rapi. Televisi menyala, tapi hanya jadi suara latar yang samar. Isaac duduk santai di sofa, memegang remote tanpa benar-benar memperhatikan layar.
Belvan yang sedari tadi ikut duduk di sebelahnya, menoleh sambil berkata pelan, “Aku beresin barang aku yang di kamar kamu dulu ya, kak. Abis ini balik ke kosan, kan?” Isaac hanya mengangguk kecil setelah melirik ke jam tangannya. “Iya, bentar lagi.” Belvan pun bangkit, berjalan menuju kamar Isaac di lantai atas, langkahnya ringan tapi teratur.
Tak lama setelah itu, suara pintu depan terbuka. Dari arah teras terdengar suara dua orang dewasa bercakap, suara kedua orang tua Isaac. Mereka baru pulang dari luar, masuk dengan membawa beberapa kantong belanja. Mami Lydia langsung menaruh kue-kue di meja ruang tengah, sementara Ayahnya duduk di sofa seberang Isaac, membuka tutup cangkir kopi yang baru saja ia bawa dari dapur.
“You guys were home all day?” tanya Ayahnya santai, tapi pandangannya tajam, mengamati ekspresi wajah anaknya. Isaac melirik, lemudian hanya mengangkat bahu. “Pretty much.” Beberapa detik hening. Lalu, tanpa aba-aba, pertanyaan Ayahnya datang, datar tapi jelas, “you two are dating?” Isaac spontan menoleh, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. “Don’t know.” Alis Ayahnya langsung terangkat. “What do you mean ‘don’t know’?” Isaac menarik napas pendek, matanya tetap mengarah ke televisi. “ya.. he’s not my boyfriend, Pi.”
Ayahnya menatap lebih lama kali ini, seperti berusaha menilai dari raut wajah anaknya. “You mean… ‘not yet’?” Isaac tidak menjawab. Suara plastik kue dibuka oleh ibunda Isaac memecah keheningan. Ia tersenyum tipis, mencoba menurunkan ketegangan yang ada. “How long have you known him?” tanyanya lembut. Yang ditanya menoleh sebentar, kemudian menjawab pelan, “Almost three months, I think(?) dia anak baru dikosan aku.” ibunda Isaac mengangguk, tangannya sibuk menata kue kue di piring kecil.
“He seems like a nice one. I just don’t want you to be mean to him, okay?” Isaac menghela napas, suaranya terdengar sedikit lelah. “Mi, it’s not that deep, kita temen akrab aja. not everyone I hang out with has to be my boyfriend.” Ayah Isaac yang mendengar itu tampak menahan komentar, matanya tajam tapi tetap tenang. Mami Lydia melirik sejenak ke arah tangga, lalu kembali menatap Isaac. “He’s even wearing your shirt,” katanya, sedikit heran. “You never lend ur clothes to anyone.”
Isaac menoleh, nada suaranya lebih defensif. “Ya ngga beda sama Aiden atau Vincent kan. They’ve borrowed my stuff too, jaket, motor, whatever.” Mami Lydia menatapnya, kali ini lebih serius. “But Aiden and Vincent never slept in your room. Not overnight.” kalimat itu membuat Isaac terdiam. Bibirnya sempat terbuka sebentar, tapi tak ada kata yang keluar. Setelah beberapa detik, ia akhirnys bergumam pendek, “Whatever.”
Ayahnya yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bersuara, suaranya tenang tapi terdengar tegas. “Isaacc… listen. I know you’re still young. you want to try things, figure yourself out. That’s fine. But look at that boy, the way he looks at you, the way you talk about him. It feels… more than just friends. And that’s okay, but..” Ia berhenti sebentar, memberi jeda, kemudian menatap Isaac langsung, lebih dalam. “What I don’t want is you turning into someone careless. Someone who plays around with other people’s feelings. I never taught you to be that kind of person, son.”
Ruangan itu kembali sunyi. Televisi masih menyala dengan suara iklan, tapi tak ada yang benar benar mendengarkannya. Isaac menunduk sedikit, tangannya menggenggam ponselnya erat erat, sementara dari arah atas terdengar samar suara langkah Belvan yang mulai turun tangga.
written by Raa, 2025