Pagi itu, Isaac menghabiskan sarapan di rumah setelah semalam kembali dari liburannya di Bali. Suasana rumah pagi itu terasa tenang, hanya diiringi suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Tubuhnya masih menyimpan sisa lelah dari perjalanan, membuat gerakannya pelan dan terlihat malas, pikirannya pun dirasa belum sepenuhnya hadir di meja makan.
Mami Lydia tengah menuangkan air minum ke dalam gelasnya ketika ia melirik Isaac sambil bertanya dengan nada santai, seolah sekadar basa-basi pagi hari, “Kemarin abang liburan sama siapa aja?”
Isaac menjawab tanpa mengangkat kepala, matanya tetap fokus pada piring dihadapannya. Sikapnya terkesan cuek, khas anak laki-laki yang merasa tak perlu menjelaskan panjang lebar. “Aku, Belvan, Aiden, sama temennya Belvan satu lagi.”
Perempuan itu mengangguk pelan sebelum kembali menyambung, “Vincent ngga ikut?” tanyanya melanjutkan, “Ngga,” jawab Isaac singkat. Baru beberapa detik suasana kembali hening, sang ayah tiba-tiba ikut menimpali, “Sudah pacaran sama Belvan, sekarang?”
Pertanyaan itu membuat Isaac akhirnya mengangkat wajah. Ia menoleh ke Mami Lydia yang juga menatapnya seolah menunggu jawaban dengan ekspresi penasaran, kemudian beralih menoleh ke papinya. Dan dengan suara pelan namun jelas, ia menjawab, “Udah.”
Sang ayah mengangguk pelan, lalu kembali menyendok makanannya. “Good, be kind to him. He looks like a good one, dan kelihatannya memang begitu. Don’t do anything stupid, ya abang”
Isaac mendengus kecil, agak geli mendengarnya. “Paham kali, pi. Aku bukan anak SMP yang baru pertama pacaran.” Papinya tidak menanggapi, hanya melanjutkan makan seolah percakapan itu sudah cukup. Mami Lydia berdeham pelan, berusaha mencairkan suasana. Senyumnya kembali mengembang, “jadi kapan rencana Belvan mau diajak main ke sini lagi?”
Isaac meneguk air di gelasnya terlebih dulu sebelum menjawab. “Belum tahu, mi. Nanti kapan kapan aku tanyain.”Mendengar itu, Mami Lydia tampak senang. “Sip, ajak main ke sini ya. Nanti mami ajak baking bareng, pasti seru.” Dan Isaac hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.
Isaac kembali fokus pada makanannya, namun belum sempat suasana benar benar kembali tenang, mami Lydia kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati, seolah menimbang nimbang setiap kata. “Oh iya, bang,” katanya sembari mengambil selembar tissue “Kemaren ada perempuan ke sini nyariin kamu, namanya Thalita.”
Sendok Isaac berhenti di udara. Ia tak langsung menoleh, hanya menghembuskan napas kecil melalui hidung. “Kenalan abang itu,” jawabnya singkat, datar.
Mami Lydia meliriknya sekilas. “Kenalan gimana? Temen kuliah?” Tanyanya dengan suara yang terdengar netral, tidak menghakimi, tapi cukup untuk membuat Isaac menghentikan kunyahan nya.
“Hm,” gumam Isaac tanpa minat menjelaskan lebih jauh. Perempuan itu tidak langsung menyahut. Ia hanya mengangguk pelan dan melirik sekilas ke arah suaminya sebelum kembali menatap Isaac dan melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, “Dia kesini nyari kamu tapi mami bilang kamu lagi ngga di rumah.” Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah meja kecil dekat pintu menuju ruang tengah. “Dia nitip itu.”
Isaac refleks menoleh. Sebuah paper bag coklat tergeletak di sana, cukup familiar, alisnya sedikit berkerut. “Isinya ada baju baju kamu,” lanjut Mami Lydia. “Katanya ketinggalan di apartemennya, jadi sekalian dikembaliin ke sini.”
Isaac mendengus pelan, lebih ke arah kesal daripada terkejut. “Padahal gosend juga bisa,” katanya pelan. “Repot repot banget kesini.”
Ucapan itu membuat mami Lydia dan sang suami saling bertukar pandangan sejenak, tanpa komentar. Tidak ada komentar langsung, hanya keheningan kecil yang menggantung di udara untuk beberapa detik. Papi nya tetap diam, memilih melanjutkan sarapannya seperti biasa.
Beberapa detik berlalu sebelum Mami Lydia kembali bicara. Kali ini suaranya lebih lembut, tidak menghakimi. “Mami tahu kamu udah gede, abang. Udah bisa ambil keputusan sendiri, dan mami percaya sama kamu.” Ia berhenti sebentar, memastikan Isaac benar benar mendengarkan. “Mami juga nggak mau ikut campur urusan pribadi kamu. Tapi mami harap, kalau kamu mau udahan sama seseorang, diselesain dulu bener-bener.”
Isaac tetap diam.
“Dari cara Thalita ngobrol sama mami kemarin,” lanjutnya pelan dan hati-hati, “kayaknya hubungan kalian ngga berakhir baik-baik. Tapi mami juga ngga mau ikut campur lebih jauh. Itu urusan kamu.”
Ia menarik napas kecil sebelum menutup, “Sekarang kamu sudah sama Belvan, kan? ya sudah, yang bener sama Belvan.” Isaac mengangguk pelan, kali ini tanpa komentar. Ia meraih gelasnya dan meneguk air peerlahan. Tidak ada bantahan, tidak juga pembelaan.
Tak ada lagi yang ditambahkan setelahnya. Meja makan kembali sunyi, suara sendok dan piring kembali jadi satu-satunya yang yerdengar diruangan itu, membiarkan pagi berjalan sebagaimana mestinya, ketiganya melanjutkan sarapan dengan tenang.