18.42 Lorong kost itu sunyi ketika Isaac tiba di depan kamar Belvan. Lampu-lampu koridor menyala lembut dengan cahaya kekuningan, menciptakan suasana hangat di tengah udara sore itu yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Isaac menghembuskan nafas berat, kemudian membuang puntung rokoknya yang sudah tinggal setengah batang di tong sampah di dekatnya. Ia berdeham pelan, kemudian mengetuk pintu dua kali, tak terlalu keras, namun jelas. Dari dalam terdengar suara pelan, sedikit serak, “Masuk aja, gak dikunci.”
Pintu bergeser, dan aroma khas obat dan peppermint langsung menyeruak keluar. Kamar Belvan terlihat rapi seperti biasa, seprai putih bersih, meja belajar dipenuhi buku dan laptop terbuka, dan AC di sudut ruangan menghembuskan udara dingin yang stabil. Di tepi ranjang, Belvan duduk bersandar, mengenakan kaos hitam dan celana pendek. Wajahnya tampak sedikit pucat, rambutnya berantakan, di tangan kirinya ada gelas berisi air serta ponsel ditangan kanannya.
Isaac sempat berdiri di ambang pintu beberapa detik, memperhatikan dalam diam. “sakit dari kapan?” tanyanya akhirnya sambil melangkah masuk dan meletakkan kantong plastik di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Belvan tersenyum lemah, sedikit terkejut tapi tidak benar-benar heran. “pagi tadi. semalem keluar sama Ale trus kena gerimis dikit soalnya kita pake motor nya Agam,” ujarnya pelan, lalu meneguk air di gelasnya sampai habis.
“Udah makan belum?” Isaac bertanya, nada suaranya tenang tapi sedikit datar, masih ada sisa jarak di antara mereka setelah kejadian kurang mengenakkan di chat kemarin. “Belum terlalu laper,” jawab Belvan, berusaha tersenyum. Isaac tidak menanggapi. Ia mengeluarkan beberapa barang dari kantong plastik yang ia bawa. dua kotak sushi, potongan buah semangka, dan sebotol air mineral dingin. Gerakannya tenang, seolah semua itu sudah direncanakan dengan baik.
Belvan memperhatikan sambil tertawa kecil. “kamu PMR ya, Kak?” Isaac menoleh, keningnya berkerut, menimang nimang apakah ucapan Belvan adalah guyonan atau ada maksud lain. “Maksudnya?” Belvan meletakkqn gelasnya di nakas sebelah kasur, matanya menyipit menahan tawa. “Dari kemaren kok gercep banget kalo ada yang sakit.” Isaac hanya menatap, sebenarnya ia langsung paham, nada bicara Belvan jelas menyindir, ini pasti karena ia melihat story instagram Thalita beberapa hari lalu.
“Maksud lo apa deh? gak ngerti gue,” ujarnya sambil pura-pura acuh. Ia justru menggeser wadah semangka ke arah Belvan. “Makan dulu, gue beli sushi juga, abis ini dimakan trus minum obat.” Belvan terkekeh pelan, menerima uluran buah semangka itu. “jarang jarang aku liat kamu serius gini tau kak” Isaac menatapnya sekilas, bibirnya menahan senyum samar. “Lo banyak ngomong, makan aja.”
Suasana kembali tenang, TV di kamar itu menyala, menampilkan film yang entah siapa yang menyalakan duluan. Keduanya duduk berdampingan di atas ranjang, makan perlahan, suara mulut mengunyah dan plastik yang bergesekan sesekali terdengar di sela-sela percakapan ringan mereka. Di luar, hujan mulai turun rintik–rintik, membentur kaca jendela yang dingin. Ruangan terasa semakin nyaman, AC tetap menyala, tapi udara di dalamnya terasa seimbang, hangat oleh keberadaan mereka berdua.
Waktu berjalan tanpa terasa. Film yang mereka tonton sudah hampir selesai, dan jam digital di meja menunjukkan pukul sembilan malam. Belvan baru saja keluar dari kamar mandi dalam di kamarnya itu, selesai berganti baju ke pakaian yang lebih hangat. Ia menguap, matanya terasa berat, suaranya pelan. “Kalo mau balik gapapa kak, aku udah ngantuk banget.”
Isaac mengalihkan pandangan dari ponselnya, memperhatikan wajahnya yang tampak memucat di bawah cahaya lampu kamar, “lo yakin gapapa sendirian? dari tadi meringis mulu sambil pegang pelipis.” Belvan hanya menggeleng pelan, berusaha menenangkan, “gapapa, cuma pusing dikit.” Isaac menghela napas, “udah, gue tidur sini aja malam ini. jaga-jaga.” Belvan sempat ingin membantah, tapi hanya menggumam lemah, lalu membiarkan Isaac menutup mematikan TV dan mematikan lampu utama.
Lampu tidur di sisi tempat tidur menyala temaram, memberi cahaya oranye lembut. Belvan sudah merebahkan diri dikasur, matanya perlahan terpejam. Dalam beberapa menit, napasnya mulai teratur, dan suara dengkuran halus terdengar samar.
———
Jam di meja menunjukkan pukul sebelas lewat, dan Isaac masih terjaga. Ia berbaring di sebelah Belvan, memegang ponsel, cahaya layar memantul di wajahnya. Sesekali ia akan terkikik pelan dengan apa yang ia lihat diponselnya. kemudian menutup mulut, takut kalau kalau suaranya mengganggu tidur Belvan. Ia kemudian menoleh ke arah Belvan, memastikan suhu tubuhnya sudah menurun.
Tiba-tiba dalam tidurnya, Belvan bergerak. Tubuhnya bergeser pelan, lalu tanpa sadar tangannya melingkar di pinggang Isaac, menariknya sedikit lebih dekat. Isaac terdiam sejenak, kaget, tapi tidak menolak. Ia menatap wajah Belvan dari jarak dekat, keringat di dahinya sudah menghilang, kulitnya sudah tidak sekemerahan tadi, dan napasnya mulai stabil.
Perlahan, Isaac mematikan ponselnya dan meletakkan di nakas sebelah kasur. Tangannya terulur, mengelus lembut punggung Belvan, sebelum akhirnya menunduk dan mengecup keningnya singkat. “sleep tight, cantik,” bisiknya nyaris tanpa suara.
Suara hujan di luar menjadi satu-satunya yang terdengar. Ruangan yang dingin terasa lebih hangat dengan dua tubuh yang saling berdekatan. Dan ketika pagi datang, matahari menyelinap melalui celah tirai. Belvan masih tertidur di pelukan Isaac, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, panas di tubuhnya sudah hilang sepenuhnya.
written by Raa, 2025