Dapur Cendana malam itu sepi. Pantulan cahaya dari lampu gantung kuning temaram jatuh ke meja panjang yang biasa dipakai anak-anak kos untuk sekedar nongkrong atau makan bersama. Belvan berdiri di depan kompor, menatap bingung tabung gas yang sudah kosong. Setelah bubble chat yang terakhir ia kirim ke Isaac kala itu, belum ada tanda orang yang ditunggu tunggu untuk datang.

Belvan mendesah, malam itu cuma mereka berdua di kost, anak anak yang lain entah masih di luar atau mungkin belum pulang dari kampus. Ia duduk di kursi dekat counter dapur, memainkan ponselnya sambil menunggu. Tak lama, terdengar langkah kaki dari arah tangga, menampilkan Isaac yang turun dengan santai sembari menarik kaos putih melewati kepalanya.

Tanpa banyak bicara, Isaac langsung memasang tabung gas baru. Belvan hanya diam memperhatikan karena merasa canggung di tengah keheningan. begitu selesai, Isaac berdiri dan berbalik seolah ingin segera kembali ke lantai dua. “Mau kemana?” tanya Belvan. Isaac menatap sekilas. “Kenapa? Gas kan udah kepasang. bikin mie sendiri bisa kan?”. Belvan menarik lurus garis bibirnya, “ya bisa lah?? maksud aku, maksud gue.. temenin kek. Takut sendirian di sini.” ucapnya meralat penggunaan ‘aku-kamu’.

Isaac menatapnya lama, dari atas sampai bawah dengan ekspresi yang sulit diartikan. Namun Belum sempat Belvan menerjemahkan tatapan itu, Isaac sudah melenggang pergi begitu saja. Belvan sempat menggerutu pelan, “Ganteng sih, tapi nggak asik anjir” ujarnya memudian kembali sibuk dengan panci dan mie instannya.

Beberapa menit kemudian, suara kursi diseret mengejutkannya. Belvan menoleh, Isaac sudah duduk di kursi meja makan, meletakkan ponselnya di atas meja kemudian membuka sebuah kaleng minuman dingin. “Ngapain?” tanya Belvan heran, “Lah? katanya suruh nemenin, gimana sih?” jawab Isaac santai. Belvan hanya mengangkat alisnya, berdecak kecil dan lanjut memasak.

Tak lama, mereka sudah duduk berhadapan. Belvan menyeduh mie dan menyantapnya dalam diam, sementara Isaac meneguk cola sambil sibuk dengan ponselnya. Beberapa menit berlalu, Isaac mulai membuka percakapan. “Nomer lu gue masuk in grup ya, jadi kalo ada info apa apa biar gampang.” Belvan tersenyum tipis sebelum menjawab, “boleh” kemudian kembali pada semangkok mie nya yang masih panas mengepul.

Isaac diam diam memperhatikan anak baru di hadapannya itu. “Gimana? betah disini?” Belvan mengangkat bahu. “baru juga sehari kak, belum bisa lah bilang betah apa ngga nya”. ‘kak’ satu kata yang menggema di kepala Isaac, kemudian ia berdeham “jawabannya cari aman banget.” Belvan mendengus. “Ya, daripada sok-sok bilang betah padahal aslinya belum.” Isaac tertawa pelan “Tapi keliatan sih, lo kayanya bukan tipe yang gampang buka kartu.” Belvan menoleh sebentar, tatapannya datar tapi ada sisa senyum yang tak bisa disembunyikan. “Lu kayak yang tau aja, kak.” Isaac balik tersenyum miring, “Ya belum tau, makanya ini gue di sini cari tau”

Mereka tertawa kecil, saling sindir tapi jelas saling mengukur. Suasana sempat terasa seperti permainan yang keduanya paham benar aturannya. Hingga tiba-tiba ponsel Isaac berdering, sebuah panggilan video masuk. awalnya ia terlihat ragu, tapi akhirnya tetap diangkat. Suara perempuan terdengar manja dari sebrang telfon, nyaring memenuhi ruang dapur. “Nanti ya, Sel. Lagi ada urusan di kos. Aku call lagi nanti ya.” Ujar Isaac sebelum buru-buru mematikan panggilan. Belvan berhenti mengunyah, diam diam menatapnya penuh arti. Dalam hati ia mengumpat, “Anjir, kayanya buaya beneran nih orang.”

Isaac hanya pura-pura tenang, kembali menyesap cola nya. Belvan ingin melempar komentar, tapi ia urungkan niatnya saat terdengar suara gaduh dari pintu depan. Aiden, Vincent, dan Noah baru pulang, tawa mereka memenuhi ruang tengah. Begitu melihat dapur, mereka langsung bersorak. “Etsss, ada yang udah akrab nih!” seru Aiden, matanya beralih dari Isaac ke Belvan yang hanya diam.

Suasana mendadak canggung, Belvan menunduk ke mangkuk mienya dan Isaac hanya bersandar cuek seolah tak terjadi apa. Tapi yang jelas, malam itu permainan baru saja dimulai.


written by Raa, 2025