Belvan masih berbaring di atas kasur, sibuk memainkan ponselnya ketika dari kamar mandi, suara air berhenti, disusul derit pintu yang terbuka menampilkan Isaac yang keluar dengan rambut masih sedikit basah dan kulit yang lembab oleh sisa uap air. Masih tanpa mengenakan kaos, Isaac melangkah mendekat dan kembali naik ke kasur, memeluk tubuh Belvan yang masih terbungkus selimut. "Jam berapa sekarang?” suaranya terdengar rendah dan serak, nyaris berbaur dengan napas pagi yang tenang. Belvan menoleh sekilas, memperlihatkan layar ponsel, “jam delapan.” jawabnya santai.

Keduanya terdiam beberapa saat, hanya suara detak jam dan dengungan suara AC yang menemani. Isaac belum juga melepaskan pelukannya. “Kak,” gumam Belvan pelan, “ada orang ya di luar? Dari tadi kedengaran suara.” Isaac membuka matanya setengah. “Kayaknya Mami sama Papi udah pulang, palingan nyampe subuh tadi.” Belvan mengangguk kecil, “untung udah kita beresin tuh ruang makan.” ujarnya sambil tersenyum tipis, membuat Isaac ikut terkekeh pelan.

“sarapan yuk,” kata Isaac kemudian, suaranya terdengar lebih segar. “Mau makan di rumah, apa keluar aja?” Belvan tampak berpikir sejenak. “Keluar, boleh? Sekalian pengen lihat-lihat sekitar sini.” Isaac mengangguk, “boleh,” lalu turun dari kasur dan membuka lemari. Ia mencari baju yang pas dari tumpukan, sementara belvan yang kini telah terduduk di kasur bersuara, “Aku pakai baju apa? Yang semalam udah kotor.” melirik bajunya yang sudah kotor tergeletak dilantai. Isaac menoleh dengan senyum geli. “Pakai punya gue nih,” katanya sambil mengulurkan sebuah kaos berwarna putih.

Belvan tertawa kecil ketika menerima pakaian itu. Isaac kemudian melangkah keluar kamar lebih dulu, sementara Belvan bangkit dan masuk ke kamar mandi. Udara pagi terasa segar, dan entah kenapa, semuanya terasa ringan hari itu.


Isaac melangkah keluar dari kamar, rambutnya masih sedikit lembab dan langkahnya malas tapi tenang. Begitu sampai di ruang makan, aroma kopi dan roti panggang langsung masuk ke penciumannya. Meja makan tampak rapi, di ujungnya, sang Ayah tengah duduk santai dengan ponsel di satu tangan dan secangkir kopi di tangan lain. Sementara itu, Ibunya sedang sibuk di dapur, menata piring dan mangkuk sambil sesekali bersenandung kecil.

“oh hi! good morning, son,” sapa mami Lydia begitu menyadari kehadiran Isaac. Suaranya ceria, seperti biasa di pagi hari. Ia sempat melongok sedikit ke belakang Isaac, alisnya terangkat penasaran, “temen kamu mana?” tanyanya kemudian. “Masih di kamar mandi,” jawab Isaac santai sambil menjatuhkan diri ke kursi di seberang Ayahnya. Ia menyalakan ponsel dan mulai menggulir layar tanpa banyak ekspresi.

Ayahnya tidak banyak bicara, hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus ke ponselnya sendiri. Tangan kirinya mengaduk kopi pelan, menimbulkan suara sendok yang beradu pelan dengan cangkir.

Suasana sempat tenang beberapa menit, hingga terdengar langkah pelan dari arah kamar. Belvan muncul dari lorong, rambutnya masih sedikit basah dan berantakan, mengenakan kaos putih milik Isaac yang agak kebesaran di bagian bahunya. Gerakannya ragu tapi sopan, matanya berusaha mencari arah sebelum akhirnya berhenti pada meja makan.

Tiga pasang mata yang ada di ruangan itu menoleh bersamaan. Mami Lydia-lah yang pertama bersuara, “oh wait, good morning! Who’s this?” sapanya dengan nada riang yang sedikit mengejutkan Belvan. Belvan tersenyum kikuk, menunduk sedikit sambil melangkah mendekat. “Belvan, Tante... Om,” ucapnya pelan. Mami Lydia tersenyum lebar, matanya menyipit karena senang. Di sisi lain, Ayah Isaac hanya diam beberapa detik sebelum perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap Belvan singkat, cukup untuk membuat suasana jadi sedikit tegang, lalu kembali menyesap kopinya tanpa berkata apa-apa.

“You guys close? Temen kuliah, ya?” tanya mami, kali ini sambil menumpuk piring di meja makan. “Temen kos,” jawab Isaac tanpa mengangkat kepala dari ponselnya. “Tapi dia adik tingkat aku.” Mami Lydia menoleh cepat, memasang ekspresi pura-pura kesal. “Lho, mami nanya ke Belvan, kok kamu yang jawab?” Isaac mendengus kecil, tapi sudut bibirnya menahan senyum. Belvan justru tertawa pelan dan menunduk malu. Sementara ayahnya bergumam pelan hampir tidak terdengar, “masih pagi udah ribut aja kalian.” Tapi dari cara dia meneguk kopinya sambil melirik ke arah Belvan, jelas ada sedikit rasa ingin tahu yang tidak diucapkan.

Isaac beranjak dari kursinya. “Udah? Yuk,” katanya ringan. “Loh, mau ke mana?” ibu nya langsung menatapnya heran. “Mau sarapan di luar, mi. Belvan pengen lihat-lihat daerah sini katanya,” jawab Isaac sambil mengambil kunci motor dari meja kecil di dekat pintu. Mami Lydia berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Oh, oke then... hati-hati di jalan, ya,” katanya dengan nada yang setengah geli, setengah penasaran.

Isaac hanya melambaikan tangan, sementara Belvan menunduk sopan kepada keduanya sebelum ikut keluar. Dari belakang, sang Ibu memandangi keduanya sambil tersenyum kecil, sementara si ayah hanya menurunkan kopinya, menghela napas, dan kembali ke ponselnya.


written by Raa, 2025