⚠️ Trigger Warning: This chapter contains mentions of attempted sexual assault (SA). Reader discretion is advised.


Suasana tongkrongan malam itu cukup ramai. Tawa dan gurauan ringan berbaur memenuhi ruangan tak terlalu luas itu, menciptakan harmoni yang khas antara kebisingan dan keakraban. Bau asap rokok dan kopi yang baru diseduh menyatu di udara, membentuk aroma yang entah bagaimana justru terasa menenangkan. Malam itu, semua orang tampak menikmati kebersamaan, seolah tak ada satu pun dari mereka yang berpikiran ingin beranjak pulang.

Namun, tidak demikian dengan Isaac. Dahi laki-laki itu berkerut, matanya terpaku pada layar ponsel yang sejak tadi tidak lepas dari genggaman. Cahaya dari layar memantul lembut di wajahnya, menegaskan ekspresi gelisah dan kebingungam. Rokok yang sedari tadi terselip di antara jemarinya kini telah tergeletak di tepian asbak, abu di ujungnya nyaris padam, terlupakan. Bubble chat terakhir yang ia kirim hanya menampilkan dua tanda centang biru, terlihat tak akan ada balasan.

Ego dan rasa cemas yang bercampur membuat dadanya terasa sesak. Dengan gerakan sedikit tergesa, ia menarik tubuhnya untuk berdiri dari kursi yang sedari tadi ia duduki. Belum badannya benar-benar tegak, sentuhan ringan sepasang lengan meraih pergelangn tangannya, menghentikan pergerakannya. “Mau ke mana?” suara lembut itu terdengar, ringan tapi cukup untuk membuat langkah Isaac terhenti. Isaac hanya mengangkat ponselnya sedikit, memberi isyarat tanpa banyak kata. “Angkat telepon bentar,” ujarnya pelan. Kalimat itu hanya dibalas dengan anggukan singkat, tapi cukup untuk ‘memberi izin.’ Isaac pun melangkah menjauh dari meja, meninggalkan gelak tawa dan aroma kopi di belakangnya.

Isaac menjauh dari kerumunan, menuju parkiran yang lebih tenang. Tempat itu sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan deru samar kendaraan yang berlalu lalang. Di bawah lampu kuning yang bergetar pelan, suasana muram malam itu terasa sejalan dengan hatinya. Dengan sedikit panik, ia kembali menekan tombol panggilan di layar ponselnya. Nada sambung terdengar dua kali... lalu tiga kali... hingga akhirnya tersambung.

“Halo, Bel??” Tak ada jawaban, hanya suara napas berat dan tersengal dari seberang telepon. Isaac mengernyit, rasa cemasnya langsung memuncak. “Bel?? Are you there? Lu kenapa?” namun bukan jawaban yang datang, melainkan suara tangis pelan. Tangisan tertahan yang membuat dada siapapun yg mendengarnya terasa sesak “Eh, Bel??” Kepanikan terdengar jelas dalam nada suara Isaac. “Kak… takut…” cicit suara di seberang sana lirih.

Dari nada suaranya saja, Isaac tahu Belvan benar-benar ketakutan. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum menenangkan orang di seberang sana. “It’s okay, gue di sini. ada gue. diatur dulu napasnya, bicara pelan-pelan. ada apa?” Suara di seberang terdengar bergetar, namun perlahan mulai bisa berbicara. “I was in the kitchen… sendirian… di kos sepi… aku ke dapur mau ambil air panas, karena dispenser di kamar rusak, gatau kenapa…”

Belvan mulai menjelaskan apa yang terjadi, masih dengan suara tersendat di antara isakan. Isaac diam, mendengarkan setiap kata dengan dada yang terasa sesak. “Iya, terus?” Isaac masih mendengarkan dengan seksama. “And then, ada satu bapak-bapak tukang yang kemarin renov dapur dateng, langsung masuk ke ruang tengah. He said he was looking for Pak Diki, but... like... I don't know why dia malah ke kosan, bukannya ke rumah Pak Diki…” Belvan berhenti sejenak, menarik napas sebelum melanjutkan.

“Then I just said he can meet Pak Diki at his house tho. but suddenly he just stepped into the kitchen, and asked me weird shit. And when I turned, dia udah di belakangku, deket banget… and suddenly he tryna grab my waist and hug me? I don’t know, I was so shocked, I couldn’t even say anything… Aku cuma nyoba dorong dia, tapi dia bener-bener meluk aku, pegang-pegang pinggang and even my butt…” Genggaman Isaac pada ponselnya mengeras. Rahangnya menegang.

“I was blank, aku gak bisa mikir apa-apa… aku bahkan gak bisa teriak... and suddenly satu bapak-bapak tukang lagi masuk and yelled at us, like, what happened. And this bitch... dia langsung lepas tangan dari badanku. Terus aku langsung lari ke kamar…” Suara Belvan kembali pecah. “Kak… aku takut…” Mendengarnya saja sudah cukup membuat emosi Isaac mendidih. “Sekarang lu di mana?” tanyanya pelan tapi tegas. “In my room,” jawab Belvan di sela-sela isaknya. Isaac mengangguk refleks, meski tahu Belvan tak bisa melihatnya. “Gue balik sekarang.”


written by Raa, 2025