TW // Physical violence, Blood, Verbal abuse, Emotional abuse, Yelling, Local profanities, Toxic relationship, Past trauma
Ruang tengah kos malam itu awalnya hangat, santai, dan ringan. Petra, Agam, dan Aiden duduk melingkar di depan TV. Obrolan ngalor ngidul soal game, soal kuliah, soal hidup anak rantau yang berisik tapi ringan. Hanya satu yang tidak benar benar ada di sana, Ale.
Ale duduk sedikit terpisah, tubuhnya ada, tapi isi kepalanya tidak. Matanya terpaku pada layar ponsel yang swedari tadi tak lepas dari genggamannya. Chat terakhirnya dengan Isaac masih terbuka, kata-kata yang kasar, dingin, dan penuh sumpah serapah yang tadi Isaac lontarkan begitu tahu foto itu sampai ke Belvan.
“gausah sok bikin skenario buat lu kirim ke Belvan lah anjing.”
Chat keduanya sudah berhenti sejak beberapa menit lalu, tapi jantung Ale masih berdetak setelah mengirimkan bubble chat terakhir seakan akan Isaac masih di ujung kalimat berikutnya.
“Le, lu ngelamunin apa sih?” Celetuk Petra setelah melirik ponsel di genggaman Ale, tertawa kecil. Ale hanya mengangkat alis, pura-pura santai. “lagi nyimak chat grup,” jawabnya pendek.
Aiden menatap Ale sebentar. Ia tahu Ale tengah menutupi sesuatu. Tapi belum sempat ia menggali, pintu depan kos mendadak terbuka dengan sedikit keras, bukan seperti pintu yang dibuka pada umumnya, tetapi seperti ditabrak oleh urgensi dan napas yang terburu-buru. Semua kepala di ruang tengah otomatis menoleh.
Isaac berdiri di sana, napasnya naik turun, tatapannya gelap, wajah sedikit memerah, dan rahang mengeras, seolah seluruh tubuhnya dipompa oleh bensin dan api. Aiden sempat bercanda, refleks, “weits, dari mana aja lu—”
Isaac tidak menjawab. Tidak melirik ke kiri, tidak juga ke kanan, langsung berjalan ke arah Ale. Ale baru sempat mengangkat wajahnya ketika detik berikutnya, kerah kaosnya sudah ditarik kasar oleh sebuah cengkraman kuat.
“bang—”
DUG!
Pukulan pertama menghantam pipi Ale sebelum kalimatnya selesai. Kepalanya terasa memutar, tubuhnya ikut mental jatuh, dan ponselnya terlempar ke lantai, melesak ke bawah meja.
DUG!
Pukulan kedua kembali melayang ke rahang Ale, Isaac membabi buta. Suara tulang mengenai tulang hingga kursi yang terdorong jatuh memenuhi ruang tengah. Petra berdiri mendadak, kaget. Aiden memekik refleks, “WOY STOP COK STOP! ADA APAAN ANJING, SAAC!”
Ale mencoba menahan, satu tangannya naik, satu lagi menangkis, tapi posisinya kalah, diduduki, ditindihi, dihantam bertubi-tubi. Isaac seperti kehilangan kontrol emosinya, pupilnya menyempit, setiap hantaman seakan mengirim pesan, “stop ikut campur urusan gue.”
“ANJING LU! KALO ADA MASALAH SAMA GUE, LANGSUNG KE GUE AJA, GOBLOK!!” Isaac berteriak di sela pukulan.
DUGH!