Villa yang mereka tempati tidak terlalu besar tapi hangat. pencahayaan amber, sofa empuk, dan suara TV yang menyala dengan volume rendah. Malam itu Darren dan Aiden duduk dengan santai di sofa ruang tengah, masing masing dengan minuman dingin di tangan. sedangkan Belvan duduk di karpet, bersandar pada sofa sambil memainkan ponselnya.
Isaac keluar dari kamar dengan kaos putih santai, bau parfum yang ia kenakan menguar, masih familiar untuk Belvan, maskulin, bersih, sedikit hangat aroma woody yang menempel lama di udara.
“Bel,” panggilnya pelan sambil meraih kunci motor dari meja. “ikut gue bentar yuk, beli rokok” Ajaknya membuat Aiden dan Darren yang mendengar itu diam diam saling melempar lirikan.
Belvan menatap Isaac sebentar, sebuah keraguan kecil sempat muncul, semua masalah mereka yang perlahan mulai selesai, amarah yang sempat menumpuk, juga rasa kecewa yang pasti nya masih punya jejak berputar dipikiran nya. Tapi pada akhirnya ia mengangguk. “oke.”
Mereka keluar villa, motor sewaan dari pihak villa menunggu di parkiran kecil yang dipenuhi suara serangga malam. Begitu mesin menyala, angin Canggu langsung menerpa wajah keduanya. Isaac menyodorkan helm ke arah Belvan.
Belvan naik dan mulai berpegangan pada ujungnya kaos yang Isaac kenakan.
Perjalanan menuju pusat Canggu ramai, lampu lampu cafe berjejer, bau laut bercampur wangi bumbu barbeque dari restoran pinggir jalan tercium di sepanjang perjalanan. Selama beberapa menit, mereka hanya diam. Isaac fokus pada jalan, sedangkan Belvan fokus pada pikiran nya sendiri.
Sampai Isaac membuka suara terlebih dahulu. “Bel,” suaranya pelan, hampir hilang terbawa angin, “gue minta maaf, ya. yang kemarin-kemarin itu… gue tau gue salah dan bikin lu capek. gue tau gue salah karena main main sama perasaan lu dan ga ngasih lu kepastian.” Belvan menunduk sedikit, menghela napas tapi tak berusaha memotong. Ia membiarkan Isaac melanjutkan ucapannya.
“Gue cuma… belum yakin sama diri gue sendiri waktu itu, gue pengen selesai in hubungan gue sama yang udah lewat dulu, baru gue bisa fokus ke elu” lanjut Isaac. “Kalo boleh jujur gue takut buat mulai hubungan yang serius, tapi setelah sama lu gue yakin.” Ia berhenti sejenak, mengatur nafasnya.
“gue yakin kalau rasa takut gue selama ini cuma karena belum nemu orang yang tepat aja. Lu beda, Bel. bukan karena lu sempurna, tapi karena sama lu, semuanya kerasa enak ngejalanin nya.” Belvan masih diam menyimak.
“sama lu tuh ga ada pura-pura, ga ada harus jadi siapa-siapa. gue bisa jadi diri gue sendiri, dan itu udah cukup buat bikin gue pengen tetap di sini, sama lu terus. Ketemu lu tuh rasanya kaya nemu rumah, sesuatu yang selama ini gue cari di banyak orang, tapi ga pernah benar-benar gue temuin”
Belvan hanya menggumam pendek, kemudian membuka ponsel nya perlahan karena ada chat masuk dari Darren: ‘jangan lupa titipan gue, nyet’ Ia hampir tertawa geli.
Di momen itulah Isaac bicara lagi, lebih cepat, lebih gugup.
“Bel…”
“hm?”
“gue boleh ga jadi pacar lu?”