Cuaca Canggu siang menuju sore kala itu terik menyengat. Aiden, dengan kacamata hitam bertengger di batang hidung nya, tengah sibuk menatap ponsel. Sementara Darren dan Belvan hanya berdiri diam, memperhatikan sekitar sambil menunggu pemilik vila— bangunan kayu modern yang berdiri megah tepat di hadapan mereka— untuk datang.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang selalu Aiden panggil om itu akhirnya datang menghampiri. Ia tersenyum ramah ke arah mereka bertiga. “Bertiga saja, Aiden?” Aiden menggeser kacamata hitam nya ke atas kepala. “Berempat, Om. satu temen aku nanti nyusul.”

Pemilik villa itu baru hendak menanggapi ketika sebuah taksi berhenti tak jauh dari mereka. Dari dalamnya, Isaac muncul dengan jaket denim, kaos putih, kacamata hitam, lengkap dengan koper besar yang ia seret santai. Angin sore menerpa sedikit rambut ysng menutupi wajahnya, membingkai wajah tampan dan tegas yang terlalu familiar bagi Belvan.

Belvan menoleh cepat ke arah Darren dan Aiden, suaranya pelan namun penuh penekanan, “kalian utang DUA penjelasan ke gue ya, anjir.” Darren hanya terkekeh geli, sementara Aiden beranjak menyambut Isaac dengan tos ala ala teman sebaya yang sudah lama tak ketemu.

“Gimana perjalanan?” tanya Aiden basa-basi. “amann,” jawab Isaac singkat. Aiden lalu mengenalkan Isaac pada si om, menjelaskan bahwa inilah teman yang ia maksud akan menyusul tadi.

Isaac melirik Belvan, senyum miring tengil yang sayang nya sudah Belvan hafal itu terpampang jelas ketika si om mulai menjelaskan fasilitas villa.

“Jadi nanti ada tiga kamar, ya,” ujar pemilik villa itu dengan logat Bali yang kental dan hangat. “Satu kamar kasur king size, dua kamar single bed. Silakan diatur nyamannya saja. motor ada dua juga kalau mau keluar-keluar biar nggak susah. Silahkan, ini kuncinya.” Ia menyerahkan kunci pada Aiden kemudian melenggang pergi setelah berpamitan.

Darren tiba tiba mengangkat tangan. “Gue mau kamar yang single bed, gue cup duluan.” Ketiga pasang mata itu refleks menoleh. “Gue juga deh yanh single bed,” Aiden menimpali sambil mengayun-ayunkan kunci di tangan nya dengan sengaja.

Belvan langsung protes, suara sedikit meninggi, “Lah terus? gue sama kak Isaac sekamar gitu??” Isaac hanya berdiri di sampingnya, diam dengan tangan yang dilipat didepan dada. Terlihat tak ada niat untuk protes sedikitpun.

Darren memutar bola mata. “Ya mau gimana lagi? Lu mau tidur di ruang tengah?” katanya sarkas sambil berjalan masuk ke dalam villa dengan kopernya. Aiden menyusul sambil terkekeh puas.

Belvan masih terdiam ditempatnya. Meski hubungannya dengan Isaac membaik akhir-akhir ini, bukan berarti ia siap jika tiba tiiba harus tidur sekamar dengan laki-laki yang bahkan sekarang hanya memandangnya tanpa ekspresi.

Isaac akhirnya membuka suara, “udah ayo masuk dulu.” kemudian meraih dua koper, miliknya dan Belvan, dan menariknya menuju dalam villa.

Belvan tak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa menyusul dengan langkah lemas dan jantung yang berdetak tak karuan.


written by Raa, 2025