Tags: Angst, Hurt, Toxic relationship, Jealousy, Misunderstanding, Drama, Violence.
Jam di dinding menunjukkan pukul satu malam ketika Belvan dan Agam duduk di kamar kost Ale, menyimak Darren yang hati-hati mengobati luka-luka Ale. Ruangan hening, hanya terdengar dengungan AC dan sesekali rintihan Ale ketika Darren tidak sengaja menekan luka bibir atau rahangnya terlalu keras.
Waktu seolah berjalan lambat. Setiap orang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Belvan termenung di sudut, Agam memusatkan perhatian pada Ale, Darren fokus pada tugasnya, sementara Ale mencoba menceritakan apa yang terjadi.
Ale dengan susah payah mencoba menceritakan semuanya, suaranya serak, kata katanya terputus karena rasa sakit dan bibir yang sobek. Darren mendengar dengan seksama, Agam hanya mengangguk sesekali. Belvan diam, hanya menyimak, setiap kata Ale melekat di pikirannya, membuat perutnya mual dan dadanya sesak, menimbulkan campuran sakit, marah, dan kekecewaan. Ia tahu Ale bertindak untuk melindunginya, tapi luka fisik dan psikologis Ale membuatnya ingin marah ke Isaac.
Setelah luka-luka Ale selesai diobati, mereka bertiga perlahan meninggalkan kamar dan kembali ke kamar masing-masing, membiarkan Ale beristirahat.
Belvan melangkah kembali ke kamarnya sendiri. Pintu hampir tertutup ketika tiba-tiba Isaac masuk, tanpa aba-aba. “Ngapain??” Belvan menatap tajam, nada ketus terdengar di suaranya. Isaac membuka mulut, mencoba bersikap setenang mungkin, “sorry, Bel…”
Belvan tidak menoleh, sibuk mengambil air dingin dari kulkas mini diujung ruangan, “Minta maaf mah ke Ale yang udah kamu pukulin sampai hampir mati, kak” ucapnya dingin, menahan rasa marah yang masih panas.
Isaac terdiam, menelan kata-kata. Ia ingin menjelaskan semua, semua tentang Thalita, semua tentang foto itu, semua tentang kesalahpahaman, tapi otaknya masih penuh dengan kemarahan dan adrenalin akibat kejadian dengan Ale tadi. Kata-katanya terasa kering di ujung tenggorokan, tak ada energi tersisa untuk menjelaskan.
Belvan melanjutkan, suaranya nyaris bergetar karena menahan emosi. “Gak lucu tau, kak. Kaya bocah, nyelesain masalah pake emosi.”Isaac mencoba lagi. “Bel, gue cuma… gue nggak suka kalau orang ikut campur urusan gue. Segala ngirim foto gue ke elu tanpa ngerti konteksnya…” Belvan menoleh,, matanya penuh ketegasan. “Ale cuma gamau, kak. Aku jadi ‘mainan’ kamu. Seebagai teman aku, dia berusaha jadi temen yang baik, itu aja.”