Pagi itu dapur kosan masih terasa tenang, terlalu tenang, hanya terdengar suara gemericik air dari dispenser dan bunyi sendok yang beradu pelan dengan cangkir. Aroma kopi menguar samar di udara, terasa pahit, hangat, dan sedikit getir, seperti suasana pagi itu sendiri.

Belvan beranjak dari meja dapur, kemudian mendudukkan dirinya di kursi meja ruang tengah. Satu tangan menggenggam mug, satu lagi sibuk menggulir layar ponsel. Rambutnya masih sedikit berantakan, kemeja abu-abu dan celana hitam panjang yang belum disetrika rapi menunjukkan betapa terburu buru nya ia memulai aktivitas dipagi itu.

Ia menunggu Darren turun dari lantai dua. Selalunya mereka akan berangkat bersama, dan pagi ini harusnya sama seperti biasanya. Tapi hari itu, entah kenapa udara di kost terasa lebih berat, mungkin karena beberapa malam terakhir tidur Belvan terasa kurang nyenyak, memikirkan hal hal yang belum selesai, terutama soal Isaac.

Suara langkah pelan ditangga memecah kesunyian. Awalnya Belvan kira itu Darren, tapi ketika ia menoleh sekilas, yang muncul justru sosok yang sama sekali tidak ingin ia lihat pagi itu. Isaac.

Pria itu turun dengan hoodie hitam, rambut masih sedikit basah seperti baru saj selesai mandi. Tatapannya langsung tertuju ke arah Belvan, dan ketika mata mereka akhirnya bertemu sekejap, suasana seolah berhenti di detik itu. Tak ada sapaan, tidak ada senyum, hanya jeda yang terlalu panjang untuk disebut hening.

Belvan buru buru menunduk, pura pura sibuk meniup kopinya, padahal cairan itu sudah tidak panas lagi. Isaac menghembuskan nafas pelan, kemudian tetap melangkah mendekat, gerakannya hati-hati tapi mantap, seolah tahu bahwa setiap langkah bisa salah arti. Ia berhenti di seberang meja, kemudian menarik kursi perlahan.

“Bel…” sapa nya dengn suara pelan nyaris seperti gumaman. Ada upaya di sana, upaya untuk memecah jarak, untuk memperbaiki sesuatu yang dirasa rusak. Belvan tidak menjawab, ia bahkan tidak menoleh, hanya menggenggam cangkir kopinya, menatap pusaran kopi yang makin dingin. Suara detik jam di dinding terasa lebih nyaring dari biasanya.

Isaac kembali mencoba. “Gue cuma mau—” tapi sebelum kalimatnya selesai diucap, suara lain terdengar dari arah tangga, “Bel, ayo! keburu siang”

Darren. Dengan jaket sudah terpasang dan tas di punggung, ia berdiri di ujung tangga menatap ke arah mereka berdua. Ada sedikit senyum kikuk di wajahnya, tapi matanya jelas menangkap suasana tegang dan canggung yng menggantung di ruangan itu.

Isaac spontan menoleh ke arah sumber suara, lalu kembali ke Belvan, seakan masih berharap akan ada satu kalimat yang bisa ia selipkan di antara mereka. Tapi Belvan sudah menurunkan cangkirnya ke meja. Tanpa menatap, tanpa sepatah kata pun, ia berdiri, meraih tas nya di kursi sebelah, kemudian melangkah ke arah Darren.

“Duluan,” katanya datar, sebelum benar benar berlalu melewati Isaac dan keluar dari ruangan itu. Darren sempat menoleh sebentar ke arah Isaac, menatapnya dengan canggung, “duluan, bang,” ucapnya pelan kemudian melangkah menyusul Belvan.

Isaac hanya mengangguk, suaranya tertahan di tenggorokan, lagi. Langkah dua orang itu perlahan menjauh, diiringi suara decitan pintu depan yang tertutup pelan.

Dan setelah itu, dapur kembali hening. Hanya aroma kopi yang tersisa di udara, samar dan dingin. Seperti sesuatu yang pernah hangat tapi sudah lama kehilangan rasanya.


written by Raa, 2025