Malam itu ruang tengah kos Cendana penuh sesak oleh suara tawa dan teriakan. Televisi di ujung ruangan menayangkan pertandingan sepak bola, guyonan khas tongkrongan anak laki laki yang kadang tak jelas tapi entah kenapa tetap lucu, menyatu dengan asap rokok dan bau makanan yang memenuhi udara. Di atas meja, tersusun beberapa kotak oleh-oleh dari Aiden, Isaac, dan Vincent yang baru pulang dari Bandung sore tadi. Bungkus makanan terbuka, gelas-gelas plastik berembun, dan remahan keripik berserakan di antara mereka
Belvan duduk di ujung sofa, bersebelahan dengan Darren yang ikut tertawa setiap kali ada yang melemparkan guyonan. Namun, di sela riuh obrolan itu, pandangan Belvan kerap beralih, sesekali matanya melirik ke arah Isaac yang anehnya, beberapa kali ia juga mendapati Isaac sedang melakukan hal yang sama, melihat ke arahnya.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan tepat. Pertandingan bola masih berlangsung, suara komentator bercampur dengan candaan yang nyaris tak berhenti. sampai kemudian Agam berdiri dari duduknya di karpet. “keluar sebentar, ambil GoFood,” katanya ringan. Beberapa menit berlalu, ia kembali, pintu depan berderit pelan. Agam masuk dengan langkah ragu, dan ekspresinya yang sedikit canggung. “Bang,” panggilnya kepada Isaac, “ada yang nyariin di luar.”
Isaac tidak langsung menoleh. Ia masih larut dalam obrolan dengan Noah, tertawa kecil sambil menepuk bahu temannya. “Gerald? Suruh masuk aja,” sahutnya tanpa berpaling. “emang udah bilang mau kesini tuh anak.” Agam sempat diam, pandangannya beralih sebentar pada Aiden, lalu kembali ke Isaac. “Bukan, bang. Tapi itu—” Sebelum sempat menjelaskan, Aiden sudah menyela, suaranya santai seperti biasa. “suruh masuk aja, Gam.”
Agam menghela napas pelan. Ia berbalik menuju pintu, membuka daun kayu itu sedikit lebih lebar, lalu kembali melangkah masuk. Kali ini dengan seseorang mengikutinya dari belakang. Suasana di ruang tengah langsung berubah. Tawa berhenti, beberapa kepala menoleh. Yang berdiri di ambang pintu bukan Gerald, tapi Thalita, perempuan yang selama ini dikenal ‘dekat’ dengan Isaac. Seketika seisi ruangan menjadi canggung. Belvan sempat melirik ke arah Isaac, pelan, tanpa ekspresi. Yang lain ikut melirik bergantian, antara penasaran dan perasaan tidak enak. Isaac sendiri sempat terdiam dari obrolannya dengan Noah, kemudian buru-buru berdiri.
Isaac tak langsung membuka mulut, ia melangkah mendekat kearah pintu dimana Thalita berdiri, kemudian menyentuh lengan perempuan itu dengan hati-hati, menggiringnya keluar dari ruangan itu. Keduanya keluar, dan pintu menutup di belakang mereka dengan bunyi kecil yang justru terasa menggema.
Beberapa detik pertama setelah itu, tidak ada yang berbicara. Hanya suara dari televisi yang terdengar, suara komentator pertandingan sepak bola yang seolah datang untuk memecahkan suasana canggung diruangan itu. “Ngapain dah maklampir kemari malem-malem,” kata Aiden pura-pura santai, mencoba mencairkan suasana. Petra langsung menimpali, “Udah biasa, kan? Jam segini emang jamnya keluyuran.”
Beberapa tawa kecil terdengar, meski terdengar hambar, kering dan terpaksa. Tak satupun dari mereka berani menyinggung apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Hanya Belvan yang tetap diam. Tangannya terulur, mengambil ponsel dari atas meja, pura-pura sibuk dengan layar. Matanya tak lagi menatap TV, tak juga menatap siapa pun. Dan meski tak ada yang bicara, semua di ruangan itu tahu, ia bukan cuma ‘sibuk dengan ponselnya’.
written by Raa, 2025