Belvan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, langkahnya tak tentu arah. Ruangan ber-AC itu mendadak terasa panas, seolah ikut menyerap gelisah yang memenuhi dadanya. Pesan terakhir yang ia kirim ke Isaac masih terhenti di layar ponsel, dua centang biru yang tak kunjung berubah apa-apa. Ia menarik napas panjang, hampir saja melempar ponsel itu ke kasur ketika suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu. Degup jantungnya seketika meninggi, tak tahu pasti antara lega atau gugup.
Saat daun pintu dibuka, di sanalah Isaac berdiri. dengan t-shirt putih dan celana pendek hitam, rambut acak-acakan, dan rokok yang terselip di antara jarinya. Senyumnya tipis, tapi cukup untuk menjawab seribu pertanyaan yang tak sempat diucapkan. Mereka masuk ke dalam setelah Belvan mempersilahkan, pintu tertutup rapat di belakang. Isaac tak bergeming, langsung duduk di tepi kasur, sementara Belvan berdiri agak jauh, memilih menyandarkan diri di meja tempat ia biasa mengerjakan tugas tugas kuliahnya, berusaha terlihat santai meski kedua tangannya sibuk memainkan tepi meja.
Ruangan dengan pencahayaan sedikit remang itu terasa begitu sunyi ketika Belvan mulai membuka mulut, “Kamu cuma mau duduk diem aja, Kak?” suaranya pelan tapi terdengar jelas. Isaac menoleh, tertawa ringan. “Kenapa? mau langsung ciuman??” Belvan berdecak malas, maya bulatnya beralih ke sembarang arah, namun bibirnya ikut tertarik naik. Sekilas, keduanya seperti sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tawa.
Isaac menghembuskan asap rokok nya pelan, “Tadi keluar kemana?” Isaac menyinggung setelah melihat Belvan yang belum sempat ganti baju, dan Belvan hanya menjawab sekenanya, “Temen aku minta di temenin ngopi?” obrolan mengalir ringan, namun mata Belvan tidak pernah benar-benar menatap lama, malah fokus ke lantai yang kotor karena abu rokok Isaac, dan ketika remahan abu rokok jatuh ke lantai, ia mendesah pelan.
“Kamu dateng cuma buat nyampah di kamar orang, tau gak, kak” ujarnya, setengah bercanda. Isaac menunduk, tersenyum. Lalu matanya kembali ke Belvan, seketika sesuatu muncul di kepalanya “Lu ngerokok gak bel?” Belvan menggeleng, cepat. “Enggak. nggak pernah.” Jawaban itu membuat Isaac bangun dari duduknya, mendekati Belvan, langkahnya pelan tanpa suara “mau nyobain ngga?” katanya, nada suaranya pelan tapi dalam. yang ditanya sempat ragu, namun Isaac tetap mendekat “gapapa gue ajarin.”
Jarak mereka kini terlalu dekat, Belvan bahkan bisa mencium samar aroma tembakau yang bercampur dengan bau parfum dari tubuh Isaac. Tidak ada yang benar-benar bergerak, tapi udara di antara mereka terasa tebal, semacam jeda yang tidak ingin berakhir. Isaac tersenyum, kemudian tangannya terangkat mengulurkan rokok itu ke depan bibir Belvan. Mata bulat sempat melirik ke wajah yang saat ini posisinya lebih tinggi darinya, dan Isaac hanya mengangkat dagu menunjuk ke arah rokoknya. Belvan ragu, tapi tetap maju, bibir kecil pink nya mencoba menghisap rokok ditangan Isaac yang masih lebih dari setengah batang itu.
Hembusan asap pertama ia terbatuk, beberapa kali sampai memegangi dadanya. Isaac tersenyum miring, “pelan pelan aja” kemudian kembali menyodorkan rokok nya, hembusan asap kedua, Belvan mulai terbiasa. Kemudian ketika ia kembali maju untuk menghisap rokok untuk yang ketiga kalinya, Isaac tilted Belvan’s chin up, closing the distance between them, his fingers caught Belvan’s chin, drawing him closer until their lips finally met.
kejadian itu begitu cepat, mata Belvan terbelalak, menatap Isaac yang memejamkan mata, menikmati apa yang ia lakukan, melumat bibir Belvan pelan. Beberapa detik keduanya tak menghentikan ciuman mereka, ciuman yang awalnya lembut berubah seiring waktu, rokok Isaac sudah entah diletakkan dimana, tangan nya meraih pinggang ramping Belvan untuk membawa tubuhnya mendekat.
Isaac melepaskan tautan bibir mereka, menatap wajah Belvan yang terlihat memerah. “You’re so pretty,” he murmured, almost as if the words slipped out on their own. Belvan laughed under his breath, a small, nervous sound. He reached up, his palms resting against Isaac’s face, holding him there for a moment before closing the distance again. the air between em felt heavy, filled with the kind of silence that said more than words could.
Dan entah sejak kapan keduanya sudah berada diatas kasur dengan tubuh Isaac diatas Belvan. Satu tangan Isaac ia gunakan untuk menopang tubuh agar tak sepenuhnya menindihi tubuh yang lebih kecil dibawahnya. Ciuman itu terus berlanjut, semakin dalam, semakin basah. Isaac melepas pangutan bibir keduanya, membuat Belvan membuka mata perlahan, mempertemukan tatapan mereka.
Isaac membenamkan wajahnya di ceruk leher Belvan, memberikan kecupan dan hisapan tak henti disana. Tangannya tak tinggal diam, trying drag his hand down, skimming past Belvan waist, stomach, until he's finally slipping under the hem of his shirt. His hand moved up, finding Belvan's sensitive spot, squeezing and gently pinching his nipple, membuat belvan mendesah dan meracau semakin keras.
“kakak—” Belvan tergagap, *but Isaac's lips never get tired, continuing to kiss, lick, and suck many places on his neck, trying to leave marks there. “*kak— nghhh kak jangan ninggalin bekas—” kalimat Belvan membuat Isaac mengangkat wajahnya, memperlihatkan bagaimana wajah Belvan memerah dengan mata yang sayu dan nafas tersenggal. Isaac kisses his temple, then his cheeks, then back to his lips. mencium, melumat, bahkan menggigit bibir bawah Belvan dengan tidak sabaran membuat nya meringis kecil.
Ciuman terasa semakin memabukkan, bibir Belvan bahkan terasa sedikit membengkak dan nyeri. Keheningan ruangan hanya diisi oleh desah lembut dan suara bibir yang beradu. Saat tangan Isaac kembali menyusuri perut Belvan, sebuah helaan napas terlepas di antara ciuman mereka. *Isaac broke the kiss, his lips found their way once more to the curve of Belvan’s neck he had left behind. he pressed soft, lingering kisses there, each one deeper than the last, until Belvan sighed his name escaping like a breath “*kak Isaac—” Belvan memejamkan mata rapat rapat, “Hmm,” gumam Isaac lirih, suaranya nyaris hilang di antara hangatnya kulit leher Belvan.
Namun kemudian, dering ponsel dari saku celana Isaac memecah keheningan, berulang kali, mengganggu momen di antara mereka. “kak— hp kamu—” kalimat itu membuat Isaac menyudahi kegiatannya dari leher Belvan dan mengumpat pelan “fuck!” namun tetap meraih ponsel yang masih berdering itu. Ia menekan layar lalu menerima panggilan yang masuk— dari Aiden.
“Apaan sih anjing, nelpon-nelpon?!” umpatnya keras begitu panggilan tersambung. Suara di seberang terdengar jelas terkejut. “Weh, santai, cok?! Lagi ngapain sih? kok kayak nyang emosi banget padahal cuma ditelpon? Ini yang lain udah nunggu di ruang tengah, katanya mau nobar.” Isaac memejamkan mata, jelas berusaha menahan emosi. Sementara itu, Belvan yang masih berada di bawahnya mengangkat tangan, mengelus wajah Isaac dengan lembut, mencoba menenangkannya sambil menahan tawa kecil di sudut bibirnya.
“Kan belum mulai, anjing. nanti juga gue turun kalau match-nya udah mau mulai,” ujar Isaac kesal. Dari seberang terdengar Aiden berdeham pelan. “Ini ada pak Diki, nyariin lo.” Belvan bisa melihat jelas kebingungan di wajah Isaac yang hanya berjarak beberapa senti di atas wajahnya. “Ngapain anjir Diki ke sini?” tanya Isaac bingung, keningnya berkerut. “Kayaknya mau ikutan nobar, dia kan fans Liverpool juga. Tapi gak tau sih, tadi nanyain lo, makanya gue telepon. cepet dah, turun,” jawab Aiden di seberang sana. Isaac berdecak kesal. “otw.” Ia menekan tombol akhir panggilan sebelum akhirnya menghela napas.
Isaac kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Belvan, menjatuhkan tubuhnya sambil memeluk Belvan lebih erat. Belvan bisa merasakan hangat napas Isaac di kulit lehernya. “Udah, turun dulu sana,” ujarnya lembut sembari membelai rambut di belakang kepala Isaac. “Emang anjing, orang-orang. Gak bisa biarin gue seneng sebentar aja apa, ya,” gumam Isaac pelan, suaranya nyaris tak terdengar, membuat Belvan tak kuasa menahan tawa kecilnya.