Tangan Isaac masih bergerak cepat, stroking himself up and down demi mengejar pelepasannya. Dan ketika ia sampai pada putih nya, nafasnya memburu, dada nya naik turun, mata nya terpejam erat dengan mulut yang sedikit terbuka.

“enghh— fuck—” umpat nya pelan sembari mengatur nafas ketika sebuah ketuk an keras terdengar dari arah pintu kamar yang tertutup. “abang! udah bangun belum? itu dicariin Aiden sama Vincent dibawah” teriak mami Lydia Dari luar kamar.

Tangan Isaac meraih beberapa lembar tissue dari nakas di sebelah kasurnya dengan terburu buru, kemudian membersihkan tubuh bagian bawahnya. “udah, mi! suruh nunggu bentar, abang mau mandi dulu,” teriak Isaac masih dari atas kasur.

Ia mengatur nafas nya, kemudian melempar tissue tissue kotor tadi ke tmpat sampah di ujung ruangan. Mata tajam itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1 siang, kemudian dengan sisa tenaga yang sudah terkumpul ia bangkit, berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan ponsel nya diatas kasur dengan layar yang masih menyala, menampilkan foto Belvan yang ia kirim sebelum hubungan kedua nya seberantakan sekarang.


Isaac turun ke lantai bawah, mata nya menangkap dua orang temannya yang sudah dengan santai duduk di ruang tengah, Vincent yang sedikit sibuk dengan ponselnya dan Aiden yang mengomentari siaran berita di televisi.

“ngapain kesini pagi pagi?” tanya Isaac sembari mendudukkan diri di sebelah Vincent, mulai membuka ponselnya. Aiden menoleh, memberikan tatapan aneh pada si pemilik rumah “jam satu, monyet. pagi pala lu botak,” ujarnya membuat Vincent dan Isaac terkekeh.

Ketiganya duduk diam menikmati dunia masing-masing, memang sudah biasa mereka begitu. kadang mereka berkumpul hanya untuk main ponsel sendiri-sendiri, kadang hanya saling terdiam, atau sekadar menghabiskan kue kering buatan mami Lydia.

Vincent mulai membuka suara, “Lo jadi ke Bali, Den? berangkat kapan deh?” tanya nya sambil meraih sepiring brownies dari atas meja. Aiden tak mengalihkan perhatiannya dari kucing Isaac yang entah kapan sudah duduk di pangkuannya “lusa, flight malem.”

Isaac meneguk cola dingin nya, “yang nikah sepupu lu yang mana sih?” Aiden menoleh, “Adrian, yang lu berdua pernah ke rumah nya pas jemput gue dulu itu. yang deket tempat kita nongkrong pas jaman maba” jawabnya yang hanya di hadiahi anggukan paham Isaac dan Vincent.

Aiden menurunkan Miko, kucing milik keluarga Isaac dari pangkuannya, meletakkan kucing siamese itu ke karpet. “pinjem koper lu dong Saac. punya gue lupa ga kebawa pulang, masih di kosan” Vincent menoleh pelan, “bego tau punya koper cuma atu bukannya dibawa wara wiri malah ditinggal tinggal”

Aiden melempar kulit kacang ke arah Vincent, “suka suka gue anjing, rewel lu” Isaac yang melihat itu hanya menggeleng pelan, “ambil tuh di atas, gue masih ada dua lagi”

Pembicaraan ketiga nya terpotong ketika ibunda Isaac muncul dari arah dapur dengan nampan berisi kan beberapa cookies dan kentang goreng. “where are you going, sweetie? mau liburan keluarga ya?” tanya mami Lydia pada Aiden.

Aiden, yang ditanya, menegakkan tubuhnya sebelum menjawab, “nikahan anaknya om, mi. Acara nya sih di Bali.” memang sudah biasa bagi teman-teman dekat Isaac memanggil ibunya dengan sebutan Mami—katanya supaya terasa lebih akrab.

“Mami mah suka repot-repot,” ujar Vincent sambil bergurau, memperhatikan Mami Lydia yang sedang menata berbagai camilan di meja depan mereka. “Iya nih, kitanya kan jadi enak,” sambung Aiden, membuat ibunda Isaac tertawa pelan.

Isaac mendengus, “segala kue kering dikeluarin semua. Kasih aja nih dua orang ban dalem sama spakbor Mio juga pasti abis mereka gerogotin,” ujarnya, membuat Vincent menepuk pelan bahunya. Ketiganya langsung pecah tertawa.